Chapter 2
“Issho ni Benkyo”
Tiga hari berlalu semenjak kejadian itu. hatiku masih merasakan getaran hebat yang menggema. Menimbulkan ketakutan namun juga kesenangan rasanya seperti meminum obat dengan air susu, tidak terasa pahit. Dampak kejadian itu cukup besar, aku sudah jarang sekali berbicara maupun bertatap muka dengannya. Aku ingin menyerah tapi entah kenapa juga sebaliknya, membingungkan.
Meratapi langit dibalik jendela kelas dijam istirahat, aku terus memikirkan himawari. Mungkin sekarang dia membenciku mengingat dia menangis karena perkataan yang keluar dari mulut ini.
“Kenapa wanita bisa serumit itu!” Geram kesal sambil mengacak ngacak rambutku.
Menghabiskan waktu di kelas tanpa melakukan apapun sungguh sempurna. Walau sebenarnya aku sedang dalam situasi yang sangat buruk. Minggu depan adalah ujian semester, karna nilai ku terus menurun aku terancam tidak naik kelas. Terpaksa aku harus sedikit meluangkan waktu menonton anime dan membaca komik.
“Sepertinya aku harus banyak belajar mulai sekarang” Ujarku bosan.
Menyerah sempat terfikir namun masa smk ku menjadi taruhannya. Walaupun harus dengan bimbel tetap saja, waktu tidak akan mendukung. Hanya memikirkannya saja sudah terasa seperti mengejar balon gas yang sudah terbang ke angkasa.
“Sudah cukup!.. aku menyerah... kuserahkan semua nya pada dewi keberuntungan” Resahku.
Bell masuk pun berbunyi pelajaran kembali dimulai begitu juga aku terus mengedepankan egoku dan tidak memperhatikan setiap materi yang guru sampaikan. Aku sadar ini sangat munafik tapi apa yang bisa kuperbuat? kenalan, teman, apalagi sahabatpun ku tak punya. Yang bisa kuharapkan hanya diriku sendiri dan tentu saja keberuntungan.
“Hei... tagashi! perhatikan apa yang bapak jelaskan! apa kamu tidak sadar minggu depan kamu harus menjalani ujian”
“Iya iya pak” Jawabku dengan ekspresi tidak peduli.
Pak guru sontak mendatangi mejaku, Tiba tiba amarahnya membludak beliau memukul meja yang aku duduki dan mempelototi aku. Aku pun terkejut.
“Sudah cukup! tagashi, datang keruang guru bersama bapak sekarang!” Teriakan pak guru dihadapanku.
“Ma.. ma.. maaf pak guru.. baiklah aku akan kesana” Jawab kagetku.
Sungguh menegangkan dan juga mengejutkan aku tidak menyadari hal ini akan terjadi. minta maaf adalah solusi untuk masalah ini. Selama perjalanan aku terus mengikuti bayang bayang pak guru dari belakang dan terus memikirkan cara meminta maaf. Hingga akhirnya sampai di depan ruang guru. Suasananya begitu aneh dan mengejutkan. Mengingat aku tidak pernah masuk ke ruangan guru di saat jam pelajaran. Pak guru menyuruhku mendatangi ruangan nya walau tak ingin tapi aku harus kesana.
“Duduklah” Uajarnya menyuruhku duduk di kursi yang tersedia.
“Baik pak”
“Baiklah kita mulai.. dengar nak.. kami para guru sangat menghawatirkanmu. Nilai mu terus menurun dan kamu tidak pernah ingin untuk belajar, bisa kamu ceritakan apa yang terjadi padamu dan bagaimana bapak bisa membantumu?”
“Tidak apa apa pak guru.. aku tidak apa apa.. aku menyadari ini bukan karena aku tidak belajar tapi karna aku memang bodoh” Aku mencoba menyembunyikan masalahku.
“Semua manusia dulunya bodoh.. dimulai saat manusia lahir dia terus belajar.. mulai dari merangkak, duduk, berdiri dan akhirnya berlari. Begitu juga kamu.. kamu tidak akan bodoh jika kamu terus belajar dan yang terpenting niatkan dalam hatimu untuk melakukannya”. Kata kata bijak pak guru.
“Pak guru” Aku terpaku karena kata kata itu wajahku menatap kosong dan langsung menundukan kepala.
“Aku egois.. belum apa apa aku sudah menyerah.. bagaimana kelangsungan hidupku jika terus seperti ini” Gumamku dalam hati.
“Bapak mengerti perasaan mu.. walau kamu tidak suka bersosialisai setidaknya kamu harus bisa meneguhkan prinsipmu itu dengan tidak menunjukan kelemahanmu. Terus berusaha dan tunjukan pada mereka yang menghinamu bahwa kamu memang benar benar tidak membutuhkan bantuan mereka” Kata pak guru yang terlontar di antara lamunanku.
“Baik pak guru saya mengerti.. anoo.. untuk yang sebelumnya aku benar benar minta maaf.. aku tidak akan melakukannya lagi” Maafku.
“Syukurlah kalau kamu sudah mengerti.. Sekarang kamu sudah bisa kembali ke kelas”
“Terima kasih pak guru”
Setelah berterima kasih aku segera keluar dari ruang guru dengan perasaan yang sudah membaik.
......
“Aku mendengarnya” Suara yang tiba tiba terdengar saat aku baru keluar dari ruang guru. Aku sedikit terkejut melihat himawari yang terlihat sudah lama berada di luar ruang guru seolah olah sedang menungguku.
“Pulang sekolah datanglah ke perpustakaan dan tunggu disana” ujarnya melanjutkan.
“Tunggu dulu.. aku tidak punya waktu untuk itu aku harus belajar saat pulang sekolah.. dan lagi kenapa kamu menguping percakapanku dengar pak guru?” Tanyaku.
Pertanyaanku tidak dijawabnya dia hanya tersenyum dan lekas meninggalkanku dengan senyuman yang mengiringi kepergiaanya. Rambutnya yang indah, baunya yang sangat wangi terlihat sangat menawan saat kutatap dirinya yang menjauh. Dengan wajah terheran-heran aku terus memandangnya hingga dia sudah tidak terlihat lagi.
“Hah...” Helaan nafasku.
“Mau apalagi dia ini, belum cukupkah kejadian lusa itu menjadi kepuasannya?” Gumamku.
Bergumam memberiku kesempatan untuk meluapkan semua yang ingin aku katakan. Maka dari itu, hanya itulah satu satunya hobi aneh yang aku miliki. Selain itu, kira kira untuk apa dia mengajakku ke perpustakaan sepulang sekolah? apa rencananya kali ini. Karna ini cukup menarik dan bikin penasaran mungkin aku akan datang.
“Kring... Kring... Kring” Bell berbunyi.
“Baiklah.. sekarang aku harus lebih meminimalisir waktu untuk memperbanyak kesempatanku belajar di rumah, jadi aku akan segera datang dan juga segera pergi”
Menuruni tangga, berlari, bertanya dan melihat map sekolah itulah langkah awalku untuk mencari lokasi perpustakaan yang sejujurnya belum pernah kukunjungi. Hingga pada akhirnya dapat kutemukan. Posisinya yang sangat tidak strategis dan terlalu tertutup bukan menjadi hal aneh bila pengunjung perpustakaan sangat sedikit. Posisinya berada di ujung pojok belakang kanan sekolah yang bisa dibilang jauh dari jarak kelasku.
“Sampai juga” Ucapku.
aku langsung memasuki perpustakaan dan melihat hal yang umumnya ada pada sebuah perpustakaan, disana ada banyak sekali rak buku berjejer dengan rapi. Selain itu daya tariknya adalah posisi tempat membaca yang sangat bagus karena berada ditengah ruangan, tepatnya dikelilingi oleh rak buku berbentuk letter U. dan terdapat satu jendela yang sangat besar dimana diluarnya terlihat pemandangan yang sangat indah mengingat ini adalah ruangan paling pojok belakang sekolah.
Aku sedikit mengeksplore tempat ini mungkin saja ada buku atau mungkin novel yang akan menarik minatku. Namun belum sempat aku melangkah dan menunaikan niatku suaranya malah terdengar.
“Tagashi! disini!” Teriaknya mengajaku.
“Hey kecilkan suaramu! ini perpustakaan” Terdengar suara penjaga sekolah memarahinya.
“Maaf aku keceplosan” Jawabnya.
Melihat kelakuannya yang terlihat tidak keren seperti rumor yang terdengar membuatku sedikit kecewa. Namun, biarlah lagi pula itu bukan urusanku. Akupun mendatanginya dan mulai menanyakan tentang apa yang akan dia lakukan dengan melibatkanku. Saking terburu buru aku tidak berfikir untuk duduk karna itu akan memicu pembicaraan yang lama.
“jadi.. ada apa? aku sudah datang.. cepatlah katakan dan jangan bertele tele.. aku ada urusan” Jelasku.
“Kenapa tidak duduk dulu saja ini akan lama” Ujarnya yang seketika membuatku jengkel.
“Sudah kuduga.. lebih baik aku pulang.. berada di sini hanya akan membuang waktuku untuk belajar” Ucap kesalku. Tanpa sepatah kata lagi aku membuang wajah dan segera pergi.
“Kurasa belajar tanpa bimbingan akan sangat sulit..” Ujarnya. Sontak aku terkejut dan diam terpaku dengan pose melangkah.
“Kamu lupa ucapakanku tempo hari? aku tahu tagashi aku tahu..”.
Aku berbalik.
“Jadi apa yang akan kamu lakukan? menjadi pembimbingku? jangan bercanda” ujarku dengan didampingi tawa kecil.
“Mungkin itu ide bagus.. aku bisa mengajarimu beberapa pelajaran yang aku kuasai”
“Jangan bilang beberapa, kamu menguasai semua mata pelajaran”jawabku yang peka akan trik yang merendahnya itu.
“Sudahlah.. kamu mau belajar denganku?” Ajaknya.
“Apa kamu juga lupa kata kataku tempo hari.. jangan libatkan aku dalam kehidupanmu.. hidupmu akan hancur” Ujarku balik bertanya.
“Jangan membuatku mengulangi kata kata itu lagi.. aku hanya khawatir padamu apa itu salah?”
Aku merasa bahwa semua ini sudah cukup. Aku tidak bisa menghentikan ambisinya yang ingin menjadi dewi penolong walau itu akan berdampak buruk padanya, pada sayap indanya itu.
“Baiklah.. aku kalah.. sensei ajari aku” dengan berat hari aku mengatakannya.
“Itu yang aku harapkan” jawabnya.
“Tapi!” Kubuat dia terkejut.
“Tapi?” Herannya.
“Jadikan ini yang pertama dan juga yang terakhir”
“Hahahaha sepertinya itu mustahil.. aku tidak bisa mengabulkannya.. tapi kamu harus tetap melakukannya karna ini adalah tuntutan”
“Sial.. apa yang akan terjadi denganku bila ini terus berlanjut” Gumam kesalku.
“Kamu melamunkan sesuatu?” tanyanya yang membuatku terkejut pasalnya dia tiba tiba bisa berada tepat didepan wajahku tanpa kusadari kapan dia beranjak dari tempat duduk.
“ehh!” Kagetku. Aku jadi merasa aneh dan sedikit bingung hingga membuaku salah tingkah.
“hehe maaf”
“Sudahlah ayo duduk dan kita mulai belajarnya sebelum waktunya habis” Ujarnya.
Walau aku tidak ingin mengakuinya tapi dia benar di depan perpustakaan terpampang bahwa perpustakaan ini akan tutup tepat pukul 05:30 sore. Sedangkan sekarang sudah menunjukan pukul 03:56 aku hanya punya waktu sedikit mengingat jumlah pelajaran yang akan kupelajari adalah seluruh mata pelajaran.
“Bailklah.. tolong bantuannya sensei”
“Apa itu sensei?”
“Dasar seorang otaku” Dia menggeleng gelengkan kepalanya.
“Sudahlah hentikan ayo kita mulai”.
Kegiatan belajar diawali dengan menyalin catatan yang tertinggal selama beberapa bulan dari himawari padaku. Karna cukup banyak aku hanya menyelesaikan sekitar 23% keseluruhan dan melanjutkan ke konsep pembelajaran selanjutnya yaitu dengan mempelajari pelajaran yang paling susah. diantaranya matematika, fisika, dan sejarah. Dia menjelaskannya dengan begitu detail dan dengan cara juga rumus yang mudah aku mengerti. Dengan perlakuannya ini jujur aku merasa sedikit bersalah karna aku selalu mengabaikan dan selalu cuek padanya.
Waktu belajar terasa sangat lama dan juga menyenangkan. Hingga tidak kusadari limit waktu kita telah mencapai batas. Penjaga sekolah menutup perputakaan dan aku harus menunda pembelajaran ini. Sedikit sedih mungkin ada tapi aku tidak boleh terlalu bergantung padanya, aku juga harus berusaha dengan kemampuanku sendiri.
“Selamat sore semuanya.. sampai ketemu besok” Ucapan penjaga sekolah sehabis mengunci ruangan perpustakaan dan pergi.
“Ini menyenangkan.. terima kasih untuk hari ini.. aku tertolong”. Entah apa yang terjadi tapi seperti ada dorongan yang membuatku mengatakan itu.
“Jangan difikirkan aku hanya sedang tidak ada kerjaan makanya aku berfikri untuk membantumu” Jawabnya. Aku hanya mengangguk dan segera pergi.
“Baiklah kalau begitu aku pulang duluan ya” Ucapku meninggalkannya.
“Baiklah Sampai berjumpa besok”
Dia melambaikan tanganya untuk mengiringi kepergiaku. Terasa senang rasanya baru pertama kali ini aku mendapat hari hari meyenangkan seperti ini.

Belum ada tanggapan untuk "Tonikaku Watashi no Mono Chapter 2"
Posting Komentar