Tonikaku Watashi no Mono Chapter 1

Pokoknya Dia Miliku
Chapter 1
"Hikikomori"

Matahari pagi menyilaukan pandangan mata ini hingga menyadarkanku dari mimpi yang selalu aku dambakan. Melihat tumpukan komik di atas tempat tidur menyadarkanku masih ada banyak volume komik yang belum terbaca habis selama beberapa minggu ini, itu sangat menggangu. Selain itu masih ada banyak anime yang belum kutonotn habis itu semua karena tugas sekolah yang terus bertimpang tindih setiap harinya ini. Tapi yang paling menjadi beban saat ini adalah bagaimana memperbaiki nilai sekolahku yang terus menurun setiap semesternya. Namaku Tagashi Hamura Kini aku duduk di bangku SMA, berbeda dengan remaja lainnya, aku adalah orang yang jarang sekali berinteraksi dengan orang lain. Orang sering bilang Nolep, atau aku sering menyebutnya Hikikomori.
Suasana dingin embun pagi masih sangat lekat, memulai hari dengan aneh membuat perasaanku terasa berbeda. Kebiasaan buruk bergadang menonton anime dan membaca komik bukan menjadi hal asing bila aku selalu bangun terlambat. Tapi hari ini sedikit berbeda, entah karna mimpiku terlalu indah atau tidurku terlalu pulas, aku terbangun sangat pagi. Bagi orang normal hal ini terdengar baik namun bagiku ini sangat tidak menguntungkan sama sekali, selain kondisiku masih mengantuk menunggu pelajaran dimulai lebih lama adalah hal yang paling ku benci.

"Menyebalkan...". Ucap kesalku.

"Kapan aku bisa menghabiskan koleksiku ini jika fikiranku dipenuhi test ujian terus".

"Hobi atau masa depan, kebingungan melanda diriku".

Selama diperjalanan yang kulakukan hanyalah mengoceh mengenai itu.

*suara buku bertabrakan denganku*

Suara hantaman buku yang datang dari seseorang.

"Maaf maaf, aku tidak sengaja". Maafnya menabraku.

Saat hantaman itu datang, aku sedikit terkejut. Seseorang itu adalah Himawari. Kenapa aku harus terkejut? karena dia adalah wanita idola sekolah yang banyak disukai cowok di sekolah ini. Berurusan dengannya adalah hal yanhg sangat buruk. Terutama bagi orang yang dibenci masaa sepertiku.

"Tak apa...". Jawabku dengan ekspresi dingin. Setelah membantu merapikan bukunya aku bergegas pergi meninggalkannya

Sifat dingin ini selalu menjadi tameng pelindung yang menjagaku dari kesalahan fatal. Terkadang, aku sering disakiti oleh orang yang berusaha kujadikan teman. Mereka menjauh menghina setelah tahu kalau aku ini hikikomori. Aku bersyukur hal itu tidak terjadi lagi padaku belakangan ini.

......

"Sudah tiba ya...".

"Sepertinya aku jadi orang normal kali ini". ucapku sesampainya di depan gerbang sekolah yang terlihat masih kosong dan terasa sepi karna fajar yang masih terlihat indah dari timur.

Untuk mencapai kelas, aku perlu melewati lorong yang juga melewati ruang guru. Suasana pagi masih sangat identik ruang guru masih terlihat kosong tanpa ada guru sejauh mata memandang. Tumpukan dokumen dan hasil ujian siswa terlihat tertumpuk disetiap meja guru yang terlihat sangat berantakan. Berpura pura menghiraukan hal itu aku lekas memasuki kelas yang berada di lantai dua gedung sekolah. berbicara mengenai tempat duduk, aku duduk dibangku yang semua orang juluki "Bangku Si Nolep". Tulisan tulisan tidak pantas tertulis disetiap senti bangku yang aku duduki ini. bukannya aku tidak peduli, hanya saja tidak ada gunanya membalas perbuatan mereka. Itu hanya akan memberikan kesan bahwa aku sama kotornya seperti mereka.

"Pagi yang sangat membosankan". Gumam jenuhku.

..... Tiba tiba

*Suara decitan lantai disusul suara benda terjatuh*

"bruk!" suara kursi yang tidak sengaja kudorong jatuh dengan bokongku. Begitulah tanggapan yang aku berikan dari suara yang tiba tiba membuat jantung seketika berdetak cepat. Berlari dan terus berlari aku mencari sumber suara yang menggema itu. Setelah kutelusuri suara itu terdapat di dalam ruangan olah raga, aku bergegas berlari kesana. Terkejut reaksiku, wajah dingin yang biasa kupancarkan luntur dengan rasa kekhawatiran. Tergeletak sesosok wanita di tengah lapangan olah raga. Lebih terkejutnya lagi wanita yang tergeletak itu adalah himawari.

Dengan beteriak menyebut namanya aku coba menyadarkan Himawari, berharap suaraku bisa mencapai alam bawah sadarnya. Seketika aku merasa khawatir apa yang akan terjadi pada himawari yang sedang tidak sadarkan ini. Setelah sedikit melamun mengenai kekhawatiranku padanya, aku segera menyadarakan diriku dan langsung membawanya ke ruang UKS.

"Tunggu sebentar lagi... kita akan sampai di ruangan UKS!"

"Aku mohon... aku mohon... sadarlah!". Gumamku dalam hati dengan nafas terengah engah.

Karena jarak ruang UKS cukup jauh, aku jadi sangat kelelahan. Setelah sampai, dengan segera aku membaringkannya di atas tempat tidur yang tersedia. Dan lekas mengaktifkan ponsel untuk segera membuka internet dan mencari solusi membangunkan himawari dari pingsannya.

"Ponsel, ponsel... mana ponselku" Ucapku tergesa gesa selagi meraba setiap saku celana dan bajuku.

"Ini dia!" kejutku

"Oke Google.. Bagaimana pertolongan pertama untuk korban yang jatuh pingsan"

"Artikel ini mungkin cocok dengan konten yang anda cari" Balasan google

"etto... coba situs ini!" Jariku menyentuh salah satu judul artikel kesehatan.

"Gunakan minyak kayu putih lalu usapkan pada tangan anda dan dekatkan dengan hidung si korban dan biarkan dia menghirupnya" Ucapku membaca artikel dari situs itu.

"Baiklah akan aku coba"

Setelah membaca artikel itu aku bergegas mencari obat tersebut di lemari obat yang ada di samping tempat tidur . Karna tergesa gesa aku tidak bisa mecarinya dengan fikiran tenang. Rasa khawatir terus mengganggu pandangan fokusku. Bahkan diwajahku terlihat keringat dingin yang mengalir dari dahiku yang tidak aku sadari mengalir. Hampir 1 menit aku mondar mandir mencari obat minyak tersebut dan tetap tidak kutemukan. Namun, ketika aku coba mencarinya diatas lemari obat aku dikejutkan oleh hal yang tidak terduga.

"Coba kau cari di laci bawah meja ini".

"Memangnya kamu tahu dari mana obat itu ada di sana" Respon otomatis yang kuberikan tanpa sadar siapa yang sedang berbicara.

"Sebentar? kau...".

"Ehhh....!! kau sudah bangun!".

"Syukurlah..." ucapku setelah terkaget kaget lalu memasang ekspresi wajah bersyukur.

Setelah itu aku segera menggeser kursi yang sebelumnya aku naiki dan menariknya kesisi tempat tidur tempat aku membaringkan himawari.

"Apa kamu baik baik saja?". Tanyaku

"Ya aku baik... terima kasih".

"Syukurlah.. aku sangat menghawatirkanmu". Ucap khawatirku.

Entah apa yang salah dari kata kataku, namun dia tampaknya tersinggung dan tersipu malu.

"Ada apa himawari? wajahmu memerah.. apa kamu sedang demam? Seharusnya kamu tidak usah datang kesekolah jika keadaanmu seperti ini. Kesehatanmu lebih penting dibanding eskul manapun". Karna penasaran aku menumpuk banyak pertanyaan dalam satu kalimat.

"Bukan! aku tidak demam".

"Lalu...?".

"Aku hanya...".

"Hanya apa?".

"Hanya...".

"Sudahlah lupakan aku ingin istirahat!".

"Oh iya maaf.. aku lupa kamu baru saja sadar dan masih perlu banyak istirahat". saat aku akan melangkah keluar, himawari sempat mengatakan sesuatu.

"Tunggu.. terima kasih untuk hari ini".

Aku membalikan badan dan membalas ucapan terima kasihnya

"Tak apa.. aku hanya kebetulan mendengar teriakanmu".

"Baiklah... aku keluar, cepat sembuh ya". Dia hanya memandangiku menungguku untuk keluar dan lekas tidur setelah kepergianku.

Beberapa saat setelah itu aku bergegas kembali ke kelas dan satu persatu teman kelasku berdatangan. Lalu seperti biasanya, hujatan sapaan menyakitkan terus terlontar di mulut kotor mereka yang tak pernah berhenti walaupun satu hari. Beberapa menit setelah itu, pelajaran pun dimulai. Aku sudah tidak memikirkan mengenai keadaan himawari dan mengalihfokuskan diriku pada pelajaran. Himawari dapat kembali kekelas pada jam istirahat pertama karena kondisinya yang cukup kelelahan.

Waktu terasa cepat berlalu bel pulang akhirnya berbunyi. Aku yang tidak mengikuti banyak eskul maupun klub sesegera mungkin meninggalkan sekolah.

"Akhirnya penderitaan ini selesai" Kata yang terucap saat aku memasukan buku ke dalam tas.

"Waktunya pulang... selamat tinggal dunia nyata dan tunggu aku dunia fantasi."

"Ha! ha! ha! ha! ha!" Suara jahat yang keluar dari mulutku dengan pose aneh yang aku peragakan.

Seketika kelas menjadi hening dan semua orang memandangku dengan pandangan itu lagi. Aku sadar saat ini sedang terpojok, dan dibisiki hal aneh. Namun, dari kejauhan meja paling depan teriakan aneh terdengar.

"Ha! ha! ha! ha! ha!" Betapa terkejutnya aku mendengar suara itu keluar dari mulut indah himawari.

Setelah meniru tawa jahatku dia lekas datang diantara kerumunan orang menuju ke arahku.

"hehhh? apa yang kamu lakukan... apa kamu sudah gila!"Bisiku heran.

"Adegan ini memang keren aku suka dengan adegan ini" ucap himawari dengan mengabaikan bisikanku sebelumnya.

Beberapa saat aku terfikirkan sesuatu, himawari mungkin sedang membantuku. tapi, kenapa?. Diriku yang aneh, menjijikan, dan tidak suka bersosialisai ini. Kenapa dia mau membantu orang sepertiku seharusnya di tahu apa dampak dari perbuatannya ini. Popularitasnya mungkin akan terancam.

"Ya benar adegan ini adalah adegan paling digemari banyak mangaka dan juga animer" Responku atas ocehan tak masuk akal himawari. Melihat hal aneh terjadi padanya semuanya mulai merasa kebingungan.

"Kenapa dengan si himawari.. kenapa dia dekat sekali dengan si hikikomori"

"Mungkin himawari tertular"

"Sayang sekali wanita secantik dia harus menjadi hikikomori juga"

.........

Perkataan itulah yang terlontar di mulut semua orang. Walau sangat terlihat kalau himawari merasa malu dan sangat memaksakan diri, dia masih tetap menahannya demi membubarkan kumpulan massa yang sedang menghujatku. Sejenak aku berfikir, kenapa aku tidak menjelaskan kepada semuanya kalau dia tidak ada hubungannya dengan dunia fantasi dan khayalanku. Dengan begitu aku bisa menyelamatkan reputasinya. Tapi sepertinya tidak mungkin, dia terlihat serius melakukan semua ini.

Tak lama setelah itu, semuanya berhenti memandangi kami dan melanjutkan aktivitas mereka masing masing.

"Anggap saja semua ini ucapan terima kasihku untuk kejadian pagi tadi" ujar himawari menjelaskan dasar perbuatannya.

"Aku kan sudah bilang padamu aku hanya kebetulan datang pagi, kenapa kamu harus mengorbankan harga dirimu demi orang sepertiku" jawabku.

"Jangan sok tidak membutuhkan bantuan!" bentakan himawari memarahiku, suaranya menggema ke seluruh lorong kelas. Jujur saja bentakan kerasnya itu menusuk hatiku yang paling dalam.

"Aku tahu kamu sedang terbebani banyak masalah! aku tahu kamu sangat tertekan! dan aku tahu kamu merasa sakit! jadi... berhentilah berpura pura, karena aku selalu memperhatikanmu.. selalu". Bentakannya berlanjut hingga membuatnya menangis dihujani banyak air mata. Aku tidak bisa berbuat apa apa selain diam terpatung mendengar suaranya hingga gema terakhir dari ujung lorong. Mataku menatap kosong, suasana terasa aneh dan tubuhku bergetar hingga saat suaranya reda dia menundukan kepalanya.

"Aku juga menghawatirkanmu..". Ucapnya sendu.

Menerima semua amarah dan hantaman kata katanya, aku tidak punya alasan ataupun ide untuk membalasnya. Entah kenapa hatiku terasa aneh, mulut ini terasa susah untuk mengucapkan kalimat maupun kata. Dibalik kegagapan, tiba tiba dia memandang kearahku lalu tersenyum dengan begitu indahnya. Dan dengan tiba tiba juga dia berlari dan menghilang begitu cepat dari hadapanku.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Tonikaku Watashi no Mono Chapter 1"

Posting Komentar